Bayangin dunia tanpa buku.
Tanpa cerita, tanpa ilmu, tanpa sejarah.
Itulah dunia yang pernah — dan berkali-kali — dicoba diciptakan oleh mereka yang takut pada pikiran bebas.
Sejak ribuan tahun lalu, kekuasaan selalu punya satu ketakutan yang sama: kata-kata. Karena kata bisa menyalakan revolusi lebih cepat dari senjata.
Maka, ketika kekuasaan merasa terancam, yang pertama mereka bakar bukan istana, tapi perpustakaan.
Sejarah manusia adalah sejarah perang melawan kebodohan yang disengaja. Dan setiap halaman yang dibakar, setiap buku yang diharamkan, adalah jejak keputusasaan penguasa yang takut kehilangan kendali atas kebenaran.
Awal Kegelapan: Pembakaran Perpustakaan Alexandria
Semuanya berawal di dunia kuno, di kota Alexandria, Mesir — tempat yang pernah menjadi pusat pengetahuan terbesar di dunia.
Perpustakaan Alexandria menampung ratusan ribu gulungan papirus dari Yunani, Persia, Mesir, India, hingga Tiongkok. Di sanalah filsafat, matematika, dan astronomi pertama kali bertemu.
Namun, pada abad ke-3 SM hingga ke-4 M, perpustakaan itu dibakar — bukan sekali, tapi berkali-kali.
Beberapa sejarawan menyebut penyebabnya adalah perang, fanatisme agama, dan politik.
Ketika kekaisaran berganti, para penguasa baru melihat pengetahuan lama sebagai ancaman terhadap ideologi mereka.
Ribuan tahun ilmu manusia pun hilang dalam asap.
Yang terbakar bukan hanya buku — tapi ingatan manusia tentang dirinya sendiri.
Zaman Kegelapan Eropa: Gereja Melawan Ilmu Pengetahuan
Abad Pertengahan sering disebut The Dark Ages bukan tanpa alasan.
Di Eropa, Gereja Katolik mengendalikan hampir semua bentuk pengetahuan.
Buku-buku yang bertentangan dengan ajaran teologis dianggap berbahaya.
Filsafat Yunani kuno, teori astronomi, dan tulisan ilmuwan Arab semua dilarang beredar.
Bahkan, membaca buku tertentu bisa dianggap sebagai dosa berat.
Salah satu korban paling terkenal adalah Giordano Bruno, filsuf Italia yang percaya bahwa alam semesta tak terbatas dan ada kehidupan di luar bumi.
Ia dihukum mati pada 1600 karena “ajaran sesat.”
Buku-bukunya dibakar di depan umum — simbol bahwa ide bisa dibunuh, tapi hanya untuk sementara.
Namun ironisnya, di tengah kegelapan itu, justru muncul cahaya baru: Renaissance.
Manusia mulai memberontak lewat pena, bukan pedang.
Karena pada akhirnya, tidak ada dogma yang bisa menahan rasa ingin tahu manusia.
Inkuisisi dan Daftar Buku Terlarang
Untuk menjaga kontrol ideologis, Gereja menerbitkan “Index Librorum Prohibitorum” — daftar resmi buku-buku terlarang.
Daftar ini memuat karya Galileo, Copernicus, Voltaire, Descartes, hingga Spinoza.
Bayangin: sebagian besar pengetahuan dunia modern dulu dianggap “berbahaya.”
Membaca buku-buku itu bisa membuat seseorang ditangkap atau dikucilkan.
Tapi efeknya justru sebaliknya: semakin dilarang, semakin dicari.
Orang-orang mulai menyelundupkan buku dengan cara rahasia — disembunyikan di balik sampul Alkitab atau dijual di pasar gelap pengetahuan.
Larangan ini berlangsung selama 400 tahun, sampai akhirnya dihapus pada 1966.
Namun, ide untuk mengontrol pemikiran lewat sensor sudah menyebar ke seluruh dunia.
Dinasti dan Kolonialisme: Saat Buku Jadi Alat Kekuasaan di Timur
Bukan cuma Eropa. Di Timur pun, pembakaran buku sering dilakukan untuk menghapus sejarah dan memonopoli kebenaran.
Di Tiongkok, Kaisar Qin Shi Huang pada abad ke-3 SM memerintahkan pembakaran semua buku filsafat dan sejarah yang tidak sesuai dengan ideologinya.
Ratusan sarjana dikubur hidup-hidup karena menolak menyerahkan naskah mereka.
Tujuannya sederhana:
“Jika hanya ada satu versi sejarah, maka hanya ada satu kebenaran — versi kekuasaan.”
Hal serupa terjadi dalam kolonialisme modern.
Di Nusantara, Belanda menyita dan memusnahkan banyak naskah lokal karena dianggap “menghasut pemberontakan.”
Buku-buku berbahasa Melayu dan Jawa dilarang beredar jika mengandung unsur politik.
Sastra pribumi dianggap terlalu berbahaya karena bisa membangkitkan kesadaran nasional.
Pengetahuan lokal pun perlahan dihapus dari memori kolektif bangsa.
Nazi dan Pembakaran Buku Modern
Abad ke-20 menyaksikan salah satu tragedi paling terkenal: pembakaran buku Nazi di Jerman (1933).
Ketika Hitler berkuasa, mahasiswa dan polisi Jerman menumpuk ribuan buku di alun-alun Berlin — karya filsuf, ilmuwan, dan sastrawan “non-Jerman.”
Di antara yang dibakar:
- Buku Einstein, karena dianggap “ilmu Yahudi.”
- Karya Freud, karena “merusak moral.”
- Puisi, novel, dan jurnal dari penulis yang menentang ideologi Nazi.
Api itu membakar lebih dari kertas — ia membakar masa depan kebebasan berpikir.
Namun justru dari tragedi itu lahir peringatan terkenal dari penyair Heinrich Heine:
“Di mana mereka membakar buku, pada akhirnya mereka juga akan membakar manusia.”
Orde Baru dan Sensor di Indonesia
Indonesia pun punya bab gelapnya sendiri dalam sejarah pelarangan buku.
Pada masa Orde Baru (1966–1998), ribuan buku disita dan dilarang beredar karena dianggap mengandung “paham terlarang” atau “mengancam stabilitas nasional.”
Beberapa contoh buku yang dilarang:
- Buku-buku tentang G30S/PKI versi non-pemerintah.
- Tulisan karya Pramoedya Ananta Toer, yang dianggap subversif.
- Buku sejarah alternatif yang menyinggung pelanggaran HAM.
Pramoedya sendiri menulis novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa saat dipenjara di Pulau Buru, tanpa kertas resmi, tanpa pena layak — tapi tulisannya menyebar lewat tangan para tahanan.
Pemerintah bisa membakar buku, tapi tidak bisa membakar ingatan.
Era Digital: Ketika Sensor Pindah ke Layar
Sekarang, pembakaran buku tidak lagi butuh api — cukup algoritma.
Di era digital, sensor berubah bentuk.
Bukan lagi pembakaran fisik, tapi penghapusan informasi di dunia maya.
Konten bisa dihapus tanpa jejak, akun bisa dibungkam tanpa suara, dan buku digital bisa “dihapus dari server” tanpa perlu dibakar.
Ironinya, dunia yang dulu berjuang untuk kebebasan informasi kini terancam oleh bentuk baru otoritarianisme digital.
Kita tidak lagi takut pada polisi buku, tapi pada sistem yang menentukan apa yang boleh kita lihat dan baca.
Di sini, bentuk modern dari pembakaran pengetahuan bukan api, tapi penghapusan data.
Kenapa Mereka Takut pada Buku?
Satu buku bisa mengubah cara manusia berpikir.
Dan perubahan cara berpikir selalu berarti ancaman bagi kekuasaan yang mapan.
Karena buku mengajarkan kita untuk mempertanyakan.
Dan kekuasaan paling takut pada pertanyaan, bukan peluru.
Buku-buku yang dilarang dari masa ke masa menunjukkan satu pola yang sama:
Setiap rezim, entah agama, negara, atau ideologi, akan berusaha mengontrol narasi.
Karena yang menguasai narasi, menguasai sejarah.
Dan yang menguasai sejarah, menguasai masa depan.
Kesimpulan: Api Tak Pernah Bisa Membunuh Ide
Setiap pembakaran buku adalah bukti betapa kuatnya ide.
Karena kalau ide bisa dimusnahkan, mereka tidak perlu membakarnya.
Dari Alexandria sampai era digital, pengetahuan selalu menemukan cara untuk bertahan — dari mulut ke mulut, dari salinan tangan ke tangan, dari cetakan ke server.